RafaleaMedia.com – Meningkatnya laporan kasus influenza dengan gejala berat di Amerika Serikat kembali menarik perhatian dunia medis internasional.
Di tengah maraknya pemberitaan, istilah “superflu” ramai digunakan masyarakat untuk menggambarkan flu yang terasa jauh lebih parah dari biasanya, berlangsung lebih lama, serta menimbulkan kelelahan ekstrem hingga mengganggu aktivitas harian.
Meski istilah tersebut populer di ruang publik, para pakar kesehatan menegaskan bahwa “superflu” bukanlah diagnosis medis resmi. Namun demikian, lonjakan kasus influenza dengan manifestasi klinis berat tetap menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan, terutama di era mobilitas global yang tinggi dan menurunnya kesadaran vaksinasi di sejumlah wilayah.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa istilah superflu umumnya digunakan masyarakat awam untuk menggambarkan infeksi influenza tipe A, khususnya subtipe H3N2 yang mengalami perubahan genetik.
“Superflu sejatinya bukan istilah medis. Itu istilah populer untuk menggambarkan influenza dengan keluhan yang dirasakan lebih berat,” ujarnya.
Menurut Dr. Piprim, mutasi pada virus influenza A H3N2 membuat virus ini lebih sulit dikenali oleh sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut dapat terjadi bahkan pada individu yang sebelumnya pernah terinfeksi flu atau telah menerima vaksin influenza. Akibatnya, respons imun tidak bekerja secara optimal sehingga gejala yang muncul terasa lebih intens.
Secara klinis, keluhan yang dilaporkan masih serupa dengan influenza musiman. Namun, perbedaannya terletak pada tingkat keparahan dan kecepatan munculnya gejala.
Pasien kerap mengalami demam tinggi yang berlangsung lebih lama, menggigil hebat, nyeri otot yang menyeluruh, sakit kepala berat, serta rasa lelah ekstrem hingga sulit beraktivitas. Selain itu, gejala saluran pernapasan seperti hidung tersumbat, pilek berat, batuk, dan nyeri tenggorokan juga sering menyertai.
Kondisi ini menjadi semakin kompleks karena gejala influenza berat memiliki kemiripan dengan COVID-19 maupun infeksi virus pernapasan lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya juga menegaskan bahwa influenza tetap menjadi ancaman serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat bahwa musim influenza terbaru menunjukkan peningkatan rawat inap akibat komplikasi flu, termasuk pneumonia dan gangguan pernapasan berat. Hal ini memperkuat pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat tidak mengabaikan gejala flu yang terasa tidak biasa. Pemeriksaan medis menjadi langkah krusial untuk memastikan penyebab infeksi. Saat ini, telah tersedia tes cepat yang dapat mendeteksi influenza A, influenza B, dan COVID-19 secara bersamaan, baik di fasilitas kesehatan maupun melalui alat tes mandiri.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan terus mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza, terutama bagi kelompok berisiko.
Edukasi publik dinilai menjadi kunci untuk mencegah kepanikan sekaligus meminimalkan dampak kesehatan akibat penyebaran virus pernapasan yang terus berkembang.
Lonjakan kasus influenza berat di berbagai negara menjadi pengingat bahwa flu bukan penyakit ringan yang bisa selalu dianggap sepele. Kewaspadaan, deteksi dini, dan langkah pencegahan tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan masyarakat di tengah dinamika penyakit global yang terus berubah.







